Senin, 03 September 2018

Film Lucu Berakhir Mengerikan

Film Lucu Berakhir Mengerikan
Source: http://marketeers.com

Semasa kecil Ayah selalu mengajakku menonton film di bioskop. Berbagai film genre aku lihat, kebanyakan genre action menjadi kesukaan genre Ayah dan Aku. Tapi saat kecil Ayah selalu mengajak nonton film genre anak-anak yang dahulu masih ada dan banyak dibuat untuk ditayangkan di layar bioskop. Tentu aku merasa senang, serasa setiap bulan pergi ke bioskop menjadi tradisi menghabiskan minggu akhir datang ke pusat pembelajaan untuk menonton film bukan berbelanja. Uang berkurang hanya untuk menonton film di bioskop. Sebelumnya aku suka sekali datang ke bioskop, akan tetapi tragedi aneh terjadi dalam hidupku.
Bioskop menjadi hal mengerikan untuk datang. Bermula pada tahun 2010, saat beranjak kelas 6 sekolah dasar. Menonton film menjadi suatu kebiasaan baru. Saat itu film sekuel akhir Shrek Forever After tayang di bioskop. Film sekuel sebelumnya Shrek 2 sudah terkenal dan lucu membuat aku dan keluarga ingin menonton sekuel lanjutannya. Shrek merupakan film animasi bergenre komedi dan cocok ditonton anak-anak. Shrek, seorang raksasa (ogre) berwarna hijau dan jelek yang memperjuangkan hak kebebasan pada kerajaan Far Far, kerajaan manusia milik orang tua Fiona, istri Shrek. Film buatan dreamworks memang banyak disukai anak-anak terutama animasi kartun dan cerita fiksinya. Hal ini menarik perhatianku dan keluarga menonton film ini. Aku pun memasuki ruang bioskop yang sebenarnya terlihat seram. Bioskop dominasi warna merah dan hitam serasa diajak masuk ke dunia hantu. Namun pemikiranku terhalang oleh film yang nantinya tayang di depan kursi warna merah dan dinding hitam. Aku duduk dan lampu perlahan dimatikan. Lampu mati pertanda film ditayangkan, tapi yang ku dengar hanya suara tanpa ada gerak visualnya. Aku kebingungan, takut, dan gelisah jika terjadi sesuatu, karena dalam pemikiranku ketika suatu ruangan padam akan terjadi bencana alam, seperti gempa bumi. Beberapa menit kemudian layar film menyala, kegelisahanku berkurang hatiku pun tenang. Sepanjang film diputar, aku mengikuti alur ceritanya. Tertawa jika adegannya lucu, menangis jika adegannya sedih. Tidak berlangsung lama, tiba-tiba layar bioskop mati suara mati lalu bunyi deras semacam hujan dan petir terdengar di dalam bioskop. Aku berteriak ketakutan yang mengakibatkan anak-anak lain berteriak juga. Suasana bioskop menjadi menakutkan, kegelapan tidak dapat menjangkau penglihatanku untuk dekat dengan keluarga. Ayah dan orang tua anak-anak lain berusaha menenangkan suasana bioskop dan mencoba membuka pintu exit. Suasana semakin creepy pintu exit tidak terbuka, Ayah mengetok pintu keras sekali sebelum lari ke pintu masuk yang ternyata dapat dibuka tapi di luar bioskop keadaan sama dengan di dalam bioskop.
Pikiran-pikiran jelek muncul dalam otakku. Ayahku berteriak keras untuk meminta pertolongan supaya mengetahui apa yang sebenernya terjadi. Padamnya lampu dan layar bioskop berlangsung cukup lama. Hampir 30 menit menunggu kepastian yang terjadi. Setelah menyala, Ayah menanyakan persoalan tersebut kepada petugas bioskop. Ternyata lampu mati terjadi di pusat pembelajaan itu. Listrik padam untuk menghindari hujan deras disertai petir. Aku berusaha menenangkan diri. Kejadian ini selalu mengingatkanku saat berkunjung kembali ke bioskop. Sempat trauma tidak datang kembali ke bioskop, tapi perlahan trauma itu hilang karena keinginanku untuk menonton film lebih besar. Ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan, ketakutan dapat datang kapan saja walaupun itu juga merupakan kegemaranmu.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda