Film Lucu Berakhir Mengerikan
Film Lucu Berakhir Mengerikan
![]() |
| Source: http://marketeers.com |
Semasa
kecil Ayah selalu mengajakku menonton film di bioskop. Berbagai film genre aku
lihat, kebanyakan genre action menjadi kesukaan genre Ayah dan Aku. Tapi saat
kecil Ayah selalu mengajak nonton film genre anak-anak yang dahulu masih ada
dan banyak dibuat untuk ditayangkan di layar bioskop. Tentu aku merasa senang,
serasa setiap bulan pergi ke bioskop menjadi tradisi menghabiskan minggu akhir
datang ke pusat pembelajaan untuk menonton film bukan berbelanja. Uang
berkurang hanya untuk menonton film di bioskop. Sebelumnya aku suka sekali
datang ke bioskop, akan tetapi tragedi aneh terjadi dalam hidupku.
Bioskop
menjadi hal mengerikan untuk datang. Bermula pada tahun 2010, saat beranjak kelas 6
sekolah dasar. Menonton film menjadi suatu kebiasaan baru. Saat itu film sekuel akhir Shrek Forever After tayang di bioskop. Film sekuel sebelumnya Shrek 2 sudah terkenal dan lucu membuat aku dan keluarga ingin menonton
sekuel lanjutannya. Shrek merupakan
film animasi bergenre komedi dan cocok ditonton anak-anak. Shrek, seorang raksasa (ogre)
berwarna hijau dan jelek yang memperjuangkan hak kebebasan pada kerajaan Far Far, kerajaan manusia milik orang
tua Fiona, istri Shrek. Film buatan dreamworks memang banyak disukai
anak-anak terutama animasi kartun dan cerita fiksinya. Hal ini menarik
perhatianku dan keluarga menonton film ini. Aku pun memasuki ruang bioskop yang
sebenarnya terlihat seram. Bioskop dominasi warna merah dan hitam serasa diajak
masuk ke dunia hantu. Namun pemikiranku terhalang oleh film yang nantinya
tayang di depan kursi warna merah dan dinding hitam. Aku duduk dan lampu perlahan
dimatikan. Lampu mati pertanda film ditayangkan, tapi yang ku dengar hanya
suara tanpa ada gerak visualnya. Aku kebingungan, takut, dan gelisah jika
terjadi sesuatu, karena dalam pemikiranku ketika suatu ruangan padam akan
terjadi bencana alam, seperti gempa bumi. Beberapa menit kemudian layar film
menyala, kegelisahanku berkurang hatiku pun tenang. Sepanjang film diputar, aku
mengikuti alur ceritanya. Tertawa jika adegannya lucu, menangis jika adegannya
sedih. Tidak berlangsung lama, tiba-tiba layar bioskop mati suara mati lalu
bunyi deras semacam hujan dan petir terdengar di dalam bioskop. Aku berteriak
ketakutan yang mengakibatkan anak-anak lain berteriak juga. Suasana bioskop
menjadi menakutkan, kegelapan tidak dapat menjangkau penglihatanku untuk dekat
dengan keluarga. Ayah dan orang tua anak-anak lain berusaha menenangkan suasana
bioskop dan mencoba membuka pintu exit.
Suasana semakin creepy pintu exit tidak terbuka, Ayah mengetok pintu
keras sekali sebelum lari ke pintu masuk yang ternyata dapat dibuka tapi di luar
bioskop keadaan sama dengan di dalam bioskop.
Pikiran-pikiran
jelek muncul dalam otakku. Ayahku berteriak keras untuk meminta pertolongan
supaya mengetahui apa yang sebenernya terjadi. Padamnya lampu dan layar bioskop
berlangsung cukup lama. Hampir 30 menit menunggu kepastian yang terjadi. Setelah
menyala, Ayah menanyakan persoalan tersebut kepada petugas bioskop. Ternyata lampu
mati terjadi di pusat pembelajaan itu. Listrik padam untuk menghindari hujan
deras disertai petir. Aku berusaha menenangkan diri. Kejadian ini selalu
mengingatkanku saat berkunjung kembali ke bioskop. Sempat trauma tidak datang
kembali ke bioskop, tapi perlahan trauma itu hilang karena keinginanku untuk
menonton film lebih besar. Ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan,
ketakutan dapat datang kapan saja walaupun itu juga merupakan kegemaranmu.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda